Dalam proyek FTTH skala besar — baik tender pemerintah maupun proyek ISP besar — kualitas splicing bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal kelulusan QC dan serah terima. Banyak kontraktor mengalami penolakan atau revisi berkali-kali hanya karena dokumentasi splicing tidak sesuai standar yang diminta.
Artikel ini merangkum standar redaman splicing yang berlaku di Indonesia tahun 2026 serta persyaratan dokumentasi yang biasanya diminta dalam tender proyek pemerintah dan ISP besar. Tujuannya agar Anda bisa menyiapkan pekerjaan dan dokumen dengan benar sejak awal, sehingga proses serah terima berjalan lancar.
Standar Redaman Splicing yang Berlaku di Indonesia
Menurut rekomendasi ITU-T G.652 dan G.657, batas maksimal redaman splicing untuk single-mode fiber adalah 0,1 dB per titik sambung. Namun dalam praktik proyek FTTH di Indonesia, standar yang diterapkan lebih ketat.
Berikut adalah target redaman yang umum digunakan di lapangan:
| Jenis Proyek | Target Rata-rata per Splice | Batas Maksimal yang Biasanya Diterima | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Proyek Pemerintah / BAKTI | 0,03 – 0,05 dB | ≤ 0,08 dB | Sangat ketat, butuh dokumentasi lengkap |
| ISP Besar (Tier-1) | 0,04 – 0,06 dB | ≤ 0,10 dB | Fokus pada konsistensi & data logging |
| Proyek Swasta / Perumahan | 0,05 – 0,08 dB | ≤ 0,12 dB | Masih bisa diterima jika rata-rata baik |
| Backbone / Long Haul | 0,02 – 0,04 dB | ≤ 0,07 dB | Core alignment wajib |
Catatan penting:
- Banyak proyek sekarang menggunakan rata-rata keseluruhan splice sebagai acuan, bukan hanya satu titik.
- Beberapa tender mensyaratkan maksimal 5% splice yang boleh di atas 0,08 dB.
- Pengukuran harus dilakukan dua arah (bi-directional) dan dirata-rata untuk hasil yang akurat.
Persyaratan Dokumentasi untuk Serah Terima Proyek
Berikut adalah dokumen yang hampir selalu diminta dalam proses serah terima proyek FTTH skala menengah hingga besar:
Checklist Dokumen Wajib Serah Terima
- Laporan Splice Loss dari Fusion Splicer
- Harus mencantumkan: ID splice, estimasi loss, tanggal & jam, nama teknisi, nomor mesin.
- Hasil Pengukuran OTDR (per segmen)
- Trace OTDR dua arah
- Event table yang jelas
- Marker posisi setiap splice
- Laporan Power Meter + Light Source (end-to-end)
- Khususnya untuk segmen distribusi dan drop
- Daftar Koordinat & As-Built Drawing
- Posisi setiap splice point, ODC, ODP, dan titik terminasi
- Foto Dokumentasi
- Foto sebelum & sesudah splicing
- Foto pelindung splice (heat shrink) yang sudah terpasang rapi
- Foto label & marking
- Sertifikat & Data Mesin
- Nomor seri fusion splicer yang digunakan
- Tanggal kalibrasi terakhir (beberapa tender mensyaratkan)
- Berita Acara Pengujian & Serah Terima (BAST)
Apa yang Sering Menyebabkan Proyek Ditolak saat QC?
Berdasarkan pengalaman di lapangan, berikut penyebab paling umum penolakan:
- Rata-rata splice loss terlalu tinggi (> 0,08 dB)
- Tidak ada data logging dari fusion splicer (hanya foto)
- OTDR trace tidak lengkap atau tidak ada pengukuran dua arah
- Tidak ada foto pelindung splice yang rapi
- Marking & labeling tidak sesuai standar proyek
- Mesin yang digunakan tidak memiliki fitur estimasi loss yang akurat
Bagaimana Memilih Fusion Splicer agar Mendukung Compliance Tender?
Untuk proyek tender yang membutuhkan dokumentasi lengkap dan redaman rendah, pertimbangkan hal berikut:
- Core Alignment dengan estimasi loss akurat (bukan hanya cladding alignment)
- Fitur data export / logging yang lengkap (bisa langsung ke USB atau software)
- Kemampuan menyimpan preset sesuai jenis kabel proyek
- Umur elektroda panjang + kemudahan perawatan (agar performa konsisten selama proyek)
- Dukungan after-sales dan ketersediaan suku cadang di Indonesia
Mesin seperti Fasser FS-200 dirancang dengan spesifikasi yang mendukung kebutuhan proyek skala besar: estimasi loss rendah, data logging yang baik, serta durabilitas tinggi untuk penggunaan harian di lapangan.
Best Practices agar Lulus QC dengan Mudah
- Gunakan mesin dengan estimasi loss yang akurat dan selalu verifikasi dengan OTDR.
- Dokumentasikan setiap splice secara real-time (jangan ditunda).
- Lakukan arc test secara berkala selama proyek besar.
- Buat standar internal tim untuk foto dan pelabelan.
- Simpan semua data dalam satu folder terstruktur sejak hari pertama.
- Latih tim untuk memahami standar redaman yang diminta klien, bukan hanya “cukup bagus”.
FAQ
Berapa redaman splicing yang ideal untuk proyek pemerintah? Target rata-rata 0,03 – 0,05 dB per splice adalah angka yang aman untuk sebagian besar tender.
Apakah harus pakai core alignment? Untuk proyek pemerintah dan ISP besar, sangat disarankan. Cladding alignment biasanya hanya diterima untuk proyek kecil atau distribusi ringan.
Apakah data dari fusion splicer saja sudah cukup? Tidak. Hampir semua proyek besar tetap mensyaratkan OTDR trace sebagai verifikasi independen.
Bagaimana jika ada beberapa splice yang sedikit di atas standar? Biasanya masih bisa diterima selama rata-rata keseluruhan masih dalam batas dan tidak lebih dari persentase tertentu (biasanya 5%).
Intinya
Dalam proyek tender FTTH skala besar, kualitas splicing dan kelengkapan dokumentasi adalah dua hal yang paling sering menjadi penyebab revisi atau penolakan. Dengan memahami standar redaman yang berlaku serta menyiapkan dokumentasi sejak awal, Anda bisa menghindari masalah di tahap akhir proyek.
Jika Anda sedang mempersiapkan proyek tender atau ingin meningkatkan standar kualitas tim splicing, memiliki mesin fusion splicer dengan performa konsisten dan fitur dokumentasi yang baik akan sangat membantu.
Baca juga Harga OTDR 2026 dan ROI: Kapan Teknisi atau ISP Harus Beli Sendiri? untuk informasi lebih lanjut.
