Fusion Splicer Fasser Networks FS-100 vs FS-200 Spesifikasi Teknis

fs-100 vs fs-200

Membandingkan parameter teknis, kapasitas energi, dan kemampuan modul 10G-PON antara Fasser FS-100 dan FS-200 untuk teknisi telekomunikasi.

Parameter TeknisFasser FS-100Fasser FS-200
Jumlah Motor Penggerak4 Motor4 Motor
Jenis Sensor CitraCMOS Resolusi TinggiCMOS Resolusi Tinggi
Sistem PenyelarasanPAS (Profile Alignment System)PAS (Profile Alignment System)
Akurasi PenempatanMikrometer AktifMikrometer Aktif
Deteksi Kelainan UjungTersedia (Algoritma Citra)Tersedia (Algoritma Citra)

Dinamika Jaringan Serat Optik di Indonesia dan Kebutuhan Alat Penyambung

Perkembangan infrastruktur digital di Indonesia mengalami lonjakan besar seiring dengan peningkatan kebutuhan data yang mencapai gigabita per detik pada setiap titik akses perumahan.

Dalam proses pembangunan jaringan ini, penyambungan serat optik menjadi titik kritis yang menentukan apakah transmisi cahaya dapat berjalan tanpa gangguan bermakna.

Fusion splicer merupakan alat utama yang bertugas menyambungkan dua ujung kabel kaca dengan presisi mikron melalui proses pelelehan menggunakan busur listrik atau electric arc.

Baca juga: Panduan Teknis Fusion Splicer untuk Proyek Fiber Optik 2026

Fasser Networks menghadirkan dua perangkat utama untuk kebutuhan ini, yaitu model FS-100 dan FS-200, yang memiliki perbedaan karakteristik pada aspek kapasitas daya, sistem visualisasi, dan integrasi fitur tambahan.

Penyambungan serat optik bukan hanya sekadar menempelkan dua ujung kaca, melainkan sebuah proses fisika yang melibatkan penyelarasan inti serat yang hanya memiliki diameter sekitar 9 mikrometer pada jenis single-mode.

Kesalahan penyelarasan sebesar 1 mikrometer saja dapat mengakibatkan redaman atau loss sebesar 0,05 dB, yang jika terakumulasi pada banyak titik sambungan, akan membuat anggaran daya atau power budget jaringan menjadi tidak mencukupi untuk layanan seperti televisi protokol internet atau internet berkecepatan tinggi.

Oleh karena itu, pemilihan antara perangkat FS-100 dan FS-200 harus didasarkan pada pemahaman mendalam mengenai spesifikasi teknis dan kondisi lapangan yang dihadapi oleh tim teknisi.

Arsitektur Sistem Motor dan Mekanisme Penyelarasan Aktif

Kedua perangkat dari Fasser Networks ini menggunakan sistem 4 motor untuk menggerakkan serat optik secara presisi pada sumbu horizontal dan vertikal.

Sistem 4 motor ini bekerja dengan prinsip penyelarasan aktif pada alur V atau active V-groove alignment, di mana motor akan menggeser posisi serat untuk memastikan kedua ujungnya berada dalam satu garis lurus sebelum busur listrik dilepaskan.

Meskipun sistem ini sering dikategorikan sebagai penyelarasan kulit atau cladding alignment, teknologi Profile Alignment System (PAS) yang disematkan memungkinkan alat ini untuk mendeteksi posisi inti serat berdasarkan perbedaan indeks bias cahaya yang ditangkap oleh kamera CMOS.

Analogi yang tepat untuk sistem ini adalah seperti menyelaraskan dua buah rambut di atas meja yang sangat stabil, namun dilakukan secara otomatis oleh mesin dengan akurasi seribu kali lebih tinggi.

FS-100 dan FS-200 mampu mencapai tingkat redaman sambungan yang sangat rendah, yaitu sekitar 0,02 dB untuk serat single-mode. Angka ini menunjukkan tingkat efisiensi tinggi, karena batas toleransi yang biasanya ditetapkan oleh operator telekomunikasi di Indonesia adalah 0,1 dB per titik sambungan.

Perbedaan mulai terlihat pada kemampuan visualisasi yang diberikan kepada pengguna. FS-100 memiliki kemampuan pembesaran layar hingga 380 kali, sementara FS-200 menawarkan pembesaran yang lebih detail hingga 420 kali.

Dalam praktik lapangan, pembesaran yang lebih tinggi pada FS-200 memungkinkan teknisi untuk melihat butiran debu atau retakan mikro pada ujung kaca yang tidak terlihat pada pembesaran yang lebih rendah.

Hal ini krusial karena kotoran sekecil apa pun yang ikut meleleh saat proses fusi akan menciptakan gelembung udara di dalam sambungan, yang secara otomatis meningkatkan nilai redaman secara signifikan.

Kapasitas Energi dan Efisiensi Operasional di Wilayah Terpencil

Indonesia memiliki tantangan geografis yang unik, di mana teknisi sering kali harus bekerja di area pegunungan atau kepulauan yang tidak memiliki akses listrik untuk pengisian daya alat secara berkala. Dalam konteks ini, kapasitas baterai menjadi faktor penentu produktivitas.

FS-100 dilengkapi dengan baterai berkapasitas 5200 mAh, yang sanggup melakukan hingga 340 siklus penyambungan dan pemanasan protektor dalam satu kali pengisian penuh. Angka ini sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan harian pada satu cluster perumahan atau distribusi satu gedung perkantoran.

Namun, FS-200 hadir dengan kapasitas energi yang lebih besar, yakni 6200 mAh, yang memungkinkan perangkat bekerja hingga 420 siklus.

Jika dalam satu hari kerja seorang teknisi rata-rata melakukan 40 titik sambungan, maka FS-200 dapat bertahan selama sepuluh hari tanpa perlu menyentuh stopkontak. Kelebihan kapasitas ini bukan hanya soal durasi, tetapi juga soal stabilitas daya saat melakukan proses pemanasan protektor (sleeve) yang memerlukan suhu tinggi secara mendadak.

Analisis Kebutuhan Daya Berdasarkan Siklus Kerja

Model PerangkatKapasitas BateraiTotal Siklus (Splicing + Heating)Rasio Efisiensi
Fasser FS-1005200 mAh340 Kali15,3 mAh / siklus
Fasser FS-2006200 mAh420 Kali14,7 mAh / siklus

Data di atas menunjukkan bahwa FS-200 sedikit lebih efisien dalam penggunaan energi per siklusnya dibandingkan dengan FS-100. Peningkatan kapasitas baterai pada FS-200 juga berkontribusi pada penambahan berat total perangkat. FS-100 memiliki berat hanya 1,5 kg termasuk baterai, menjadikannya pilihan bagi teknisi yang harus sering memanjat tiang atau bekerja dengan posisi menggantung. Sementara itu, FS-200 memiliki berat 1,88 kg, yang memberikan stabilitas lebih baik saat diletakkan di atas meja kerja di dalam kendaraan teknis atau area konstruksi yang rata.

Adaptasi Terhadap Standar Serat Optik G.652 dan G.657

Dalam pembangunan jaringan Fiber to the Home (FTTH), teknisi sering kali diperhadapkan pada situasi di mana mereka harus menyambungkan kabel backbone (umumnya standar ITU-T G.652.D) dengan kabel drop atau kabel dalam rumah (standar ITU-T G.657) yang lebih tahan terhadap tekukan. Kedua model Fasser ini telah mendukung penyambungan berbagai tipe serat tersebut secara otomatis. Standar G.652.D memiliki radius tekukan minimal sekitar 30 mm, sementara G.657.A2 dapat ditekuk hingga radius 7,5 mm tanpa mengalami kehilangan sinyal yang parah.

Penyambungan antar standar serat ini menimbulkan tantangan fisis yang disebut sebagai ketidaksesuaian diameter bidang mode atau Mode Field Diameter (MFD) mismatch. Serat G.652.D memiliki MFD sekitar 9,2 mikrometer, sedangkan beberapa varian G.657 memiliki MFD yang sedikit lebih kecil untuk mencapai ketahanan tekukan yang lebih baik. Penelitian dalam jurnal telekomunikasi menyebutkan bahwa penyambungan dua jenis serat ini dapat menghasilkan nilai redaman yang tidak simetris saat diukur dengan alat OTDR (Optical Time Domain Reflectometer), di mana dari satu sisi terlihat seperti ada penguatan sinyal atau gainer. FS-100 dan FS-200 menggunakan algoritma analisis citra yang mampu mengenali jenis serat ini dan menyesuaikan parameter arus listrik pada busur api secara real-time untuk meminimalkan dampak dari perbedaan MFD tersebut.

Tabel Parameter Optik dan Redaman Sambungan

Jenis Serat OptikRedaman Standar (Typical Loss)Standar ITU-T Terkait
Single-Mode (SM)0,02 dBG.652.D, G.657.A1/A2
Multi-Mode (MM)0,01 dBG.651
Non-Zero Dispersion (NZ)0,03 dBG.655
NZ Dispersion Shifted0,04 dBG.653

Kemampuan mesin untuk bekerja pada ketinggian 0 hingga 5000 meter di atas permukaan laut juga menjadi poin penting. Di wilayah dataran tinggi seperti Puncak Jaya atau pegunungan di Sumatra, kepadatan udara yang lebih rendah dapat mempengaruhi stabilitas busur listrik. Perangkat Fasser dilengkapi dengan sensor tekanan udara yang akan secara otomatis mengompensasi kekuatan pelepasan muatan listrik atau discharge agar suhu pelelehan tetap berada pada titik ideal, yaitu sekitar 1600 derajat Celsius, yang merupakan titik lebur kaca silika.

Integrasi Teknologi 10G-PON dan Modul Ekstensi pada FS-200

Salah satu pembeda paling mencolok dari Fasser FS-200 dibandingkan FS-100 adalah keberadaan platform ekspansi bawaan yang mendukung modul 10GPON dan OTDR. Seiring dengan transisi operator seluler di Indonesia dari teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) menuju XGS-PON (10-Gigabit-capable Symmetric Passive Optical Network), persyaratan kualitas sambungan menjadi jauh lebih ketat. Jaringan XGS-PON bekerja pada panjang gelombang yang berbeda, yakni 1577 nm untuk jalur turun (downstream) dan 1270 nm untuk jalur naik (upstream), dibandingkan GPON yang menggunakan 1490 nm dan 1310 nm.

Pada kecepatan transmisi 10 Gbps, setiap deviasi kecil pada sambungan dapat menyebabkan kesalahan bit atau bit error rate (BER) yang tinggi. FS-200 memungkinkan teknisi untuk menambahkan modul pengujian langsung ke dalam perangkat penyambung, sehingga setelah proses penyambungan selesai, verifikasi kualitas jalur dapat dilakukan seketika tanpa perlu mencabut kabel dan menghubungkannya ke alat tes terpisah. Hal ini sangat mengefisiensi waktu pengerjaan pada proyek skala besar yang melibatkan ribuan titik sambungan dalam waktu singkat.

Perbandingan Dukungan Modul Ekstensi

Jenis Modul PengujianFasser FS-100Fasser FS-200
Optical Power Meter (OPM)Opsional (Modul Terpisah)Terintegrasi / Opsional
Visual Fault Locator (VFL)TerintegrasiTerintegrasi
Bluetooth Data ExportTersediaTersedia
Modul OTDRTidak TersediaTersedia (Ekstensi)
Modul 10GPON TestTidak TersediaTersedia (Ekstensi)

Keberadaan modul OTDR pada FS-200 memberikan kemampuan bagi tim teknisi untuk melihat grafik distribusi redaman di sepanjang jalur serat kabel. Jika terdapat tekukan yang terlalu tajam atau macrobending pada baki kabel (splice tray), modul OTDR ini akan segera memberikan peringatan sebelum teknisi menutup kotak distribusi kabel. Sebaliknya, FS-100 lebih berfokus pada fungsi penyambungan murni dengan tambahan fitur dasar seperti lampu LED untuk membantu pengerjaan di malam hari atau di dalam gedung yang minim cahaya.

Keunggulan Material dan Konstruksi Mekanik

Dalam jangka panjang, durabilitas perangkat ditentukan oleh material yang digunakan pada komponen penggeraknya. Fasser FS-200 menggunakan rangka penggerak yang terbuat dari material aluminium penerbangan seri 7075. Material ini dikenal memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang sangat baik serta ketahanan terhadap korosi yang tinggi. Penggunaan aluminium 7075 memastikan bahwa sistem mekanik motor tetap presisi meskipun perangkat telah digunakan untuk ribuan kali penyambungan. Sebagai perbandingan, banyak perangkat di kelasnya yang masih menggunakan proses cetak injeksi plastik untuk komponen rangka, yang cenderung mengalami perubahan bentuk mikro seiring bertambahnya usia pakai dan paparan suhu ekstrem.

Selain material rangka, kedua perangkat ini menggunakan V-groove yang terbuat dari keramik presisi. Pemilihan keramik bukan tanpa alasan; keramik memiliki tingkat kekerasan yang jauh lebih tinggi daripada logam, sehingga tidak mudah tergores oleh ujung serat optik yang tajam. Permukaan yang tetap mulus sangat penting agar serat dapat bergeser dengan lancar saat proses penyelarasan aktif oleh motor. Jika V-groove mengalami aus atau tergores, serat tidak akan duduk dengan sempurna, yang mengakibatkan kesalahan estimasi redaman oleh mesin.

Perbandingan Dimensi dan Portabilitas

Atribut FisikFasser FS-100Fasser FS-200
Berat dengan Baterai1500 gram1880 gram
Ukuran Layar4,3 Inci5,0 Inci
Resolusi LayarHD Capacitive TouchHD Capacitive Touch
Antarmuka PenggunaGUI Grafis NavigasiGUI Grafis Navigasi
Material BodiIndustri Tahan JatuhAluminium 7075 & Tahan Jatuh

Layar pada FS-200 yang berukuran 5 inci memberikan kenyamanan lebih bagi mata teknisi saat harus menginspeksi ujung serat selama berjam-jam. Dengan teknologi sentuh kapasitif, navigasi antar menu program pengelasan menjadi lebih cepat dibandingkan hanya menggunakan tombol fisik. Meskipun begitu, kedua perangkat tetap mempertahankan tombol fisik sebagai cadangan, karena sering kali teknisi harus bekerja menggunakan sarung tangan yang tidak responsif terhadap layar sentuh.

Prosedur Persiapan dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Sambungan

Sebelum proses fusi dilakukan oleh FS-100 atau FS-200, terdapat tahapan persiapan yang sangat menentukan kualitas hasil akhir. Tahapan ini meliputi pengupasan pelindung polimer (stripping), pembersihan menggunakan alkohol dengan kadar di atas 90%, dan pemotongan ujung serat (cleaving). Alat pemotong atau fiber cleaver harus mampu menghasilkan sudut potongan yang sedekat mungkin dengan 90 derajat terhadap sumbu longitudinal serat.

Jika sudut potongan melebihi 1 derajat, FS-100 dan FS-200 akan memberikan peringatan pada layar dan menolak untuk melakukan penyambungan. Hal ini merupakan mekanisme perlindungan untuk memastikan bahwa setiap sambungan yang dihasilkan memenuhi standar industri. Algoritma citra pada perangkat Fasser mampu mendeteksi kotoran di ujung serat dan melakukan proses pembakaran singkat atau pre-fusion spark untuk menghilangkan sisa debu yang tertinggal sebelum proses fusi utama dimulai.

Langkah Fisika dalam Proses Splicing

  1. Penyelarasan (Alignment): Motor menggerakkan serat hingga inti kiri dan kanan bertemu di tengah dengan celah tertentu.
  2. Pembersihan Akhir (Pre-fusion): Busur listrik kecil dilepaskan untuk membakar debu mikroskopis.
  3. Pelelehan dan Penyatuan (Arcing & Stuffing): Busur listrik utama melelehkan kaca sementara motor pendorong menekan kedua ujung serat hingga menyatu.
  4. Estimasi Redaman: Mesin menganalisis gambar sambungan yang baru terbentuk untuk memperkirakan nilai loss berdasarkan kontinuitas inti serat.
  5. Uji Tarik (Tension Test): Mesin memberikan gaya tarik sebesar 1,96 N hingga 2,1 N untuk memastikan sambungan mekanis sudah kuat.

Gaya tarik sekitar 2 Newton ini setara dengan beban sekitar 200 gram, yang sudah cukup untuk memastikan bahwa sambungan tidak akan putus saat kabel ditarik atau dipasang ke dalam baki manajemen kabel. Jika sambungan rapuh, ia akan putus saat uji tarik ini, sehingga teknisi dapat segera mengulang prosesnya daripada mendeteksi kegagalan di kemudian hari saat jaringan sudah beroperasi.

Umur Pakai Komponen dan Pemeliharaan Rutin

Komponen yang paling sering diganti pada fusion splicer adalah elektroda, yaitu batang logam yang menghasilkan busur listrik. Elektroda pada Fasser FS-100 dan FS-200 memiliki umur pakai sekitar 5000 kali pelepasan muatan listrik. Seiring pemakaian, ujung elektroda akan mengalami oksidasi dan penumpukan residu silika, yang menyebabkan busur listrik menjadi tidak stabil. Pengguna dapat melakukan proses pembersihan elektroda secara otomatis melalui menu perawatan yang tersedia di sistem operasi alat.

Selain elektroda, kebersihan lensa kamera dan V-groove adalah hal yang mutlak dijaga. Mengingat FS-100 dan FS-200 sering digunakan di lingkungan luar ruangan yang berdebu, penumpukan debu pada lensa dapat mengakibatkan mesin gagal melakukan fokus pada inti serat, sehingga proses penyelarasan menjadi lama atau bahkan gagal total.

Tabel Jadwal Pemeliharaan yang Disarankan

KomponenTindakanFrekuensi
ElektrodaKalibrasi Busur (Arc Calibration)Setiap awal shift kerja
V-groovePembersihan dengan sikat halusSetiap hari setelah pemakaian
Lensa KameraPembersihan dengan cotton bud & alkoholSetiap kali gambar terlihat buram
BateraiPengisian daya penuhSaat indikator di bawah 20%
ElektrodaPenggantian totalSetelah mencapai 5000 siklus

Kalibrasi busur atau arc calibration sangat penting dilakukan setiap kali ada perubahan lingkungan yang drastis, misalnya saat berpindah dari area pantai yang panas dan lembap ke area pegunungan yang dingin dan kering. Proses ini akan menyesuaikan kekuatan arus listrik agar sesuai dengan kepadatan udara saat itu, sehingga panas yang dihasilkan tetap konsisten untuk melelehkan serat kaca tanpa menghanguskannya.

Analisis Skenario Penggunaan di Pasar Indonesia

Pemilihan antara kedua model ini sangat bergantung pada model bisnis dan jenis proyek yang dikerjakan oleh sebuah perusahaan telekomunikasi atau kontraktor infrastruktur.

Proyek Retail FTTH Skala Besar (Drop Core Installation)

Untuk pengerjaan instalasi dari tiang ke rumah pelanggan yang melibatkan ratusan teknisi dengan mobilitas tinggi, Fasser FS-100 merupakan pilihan yang lebih efisien secara biaya dan operasional. Beratnya yang hanya 1,5 kg sangat memudahkan teknisi yang harus sering naik-turun tangga. Harganya yang berada di kisaran Rp 10.500.000 juga memungkinkan perusahaan untuk melakukan pengadaan dalam jumlah besar untuk melengkapi banyak tim lapangan sekaligus.

Pembangunan Jaringan Backbone dan Cluster Menengah

Untuk tim yang bertugas membangun jalur utama (backbone) atau interkoneksi antar gedung yang memerlukan laporan kualitas link secara mendetail, FS-200 memberikan keunggulan melalui layar 5 inci yang lebih lega dan kapasitas baterai yang lebih besar. Kemampuan ekspansi modul OTDR juga sangat menguntungkan karena mengurangi jumlah alat yang harus dibawa oleh satu tim teknisi. Jika terjadi gangguan pada kabel jalur utama, tim dapat langsung mendeteksi titik putusnya kabel menggunakan modul OTDR pada FS-200 tersebut.

Implementasi Jaringan 5G dan 10G-PON

Bagi operator yang sedang melakukan modernisasi jaringan menuju infrastruktur 5G yang memerlukan latensi sangat rendah, kualitas sambungan serat optik menjadi harga mati. Redaman yang stabil di angka 0,02 dB dan dukungan pengujian standar 10G-PON pada FS-200 menjadikannya investasi yang lebih aman untuk masa depan. Infrastruktur yang dibangun menggunakan standar 10G-PON saat ini akan tetap relevan hingga sepuluh tahun ke depan, sehingga akurasi penyambungan sejak awal instalasi sangat krusial.

Perbandingan Harga dan Nilai Ekonomi

Dalam tinjauan pasar di platform perdagangan elektronik Indonesia, terdapat perbedaan harga yang mencerminkan fitur dari masing-masing model. Fasser FS-100 dapat ditemukan dengan harga mulai dari Rp 10.500.000. Di sisi lain, FS-200 biasanya dipasarkan dengan harga yang sedikit lebih tinggi, berkisar antara Rp 12.700.000 hingga Rp 15.000.000 tergantung pada paket modul yang disertakan dalam penjualannya.

Nilai ekonomi dari FS-200 tidak hanya dilihat dari harga belinya, tetapi dari total biaya kepemilikan dan produktivitas yang dihasilkan. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar, waktu henti untuk pengisian daya dapat dikurangi, yang berarti jumlah titik sambungan yang dapat diselesaikan dalam satu bulan akan lebih tinggi. Material aluminium 7075 juga menjanjikan masa pakai mekanik yang lebih lama, sehingga frekuensi perbaikan atau servis besar dapat ditekan seminimal mungkin.

Aspek PenilaianFasser FS-100Fasser FS-200
Investasi AwalRendahMenengah
Mobilitas TeknisiSangat TinggiTinggi
Kesiapan Masa Depan (10G-PON)DasarSangat Siap
Ketahanan PerangkatBaikSangat Baik (Aluminium 7075)
Efisiensi Alat TambahanPerlu Alat Ukur TerpisahTerintegrasi (OTDR/10GPON)

Tabel Estimasi Pengembalian Investasi (ROI) Sederhana

Aspek PenilaianFasser FS-100Fasser FS-200
Investasi AwalRendahMenengah
Mobilitas TeknisiSangat TinggiTinggi
Kesiapan Masa Depan (10G-PON)DasarSangat Siap
Ketahanan PerangkatBaikSangat Baik (Aluminium 7075)
Efisiensi Alat TambahanPerlu Alat Ukur TerpisahTerintegrasi (OTDR/10GPON)

Untuk perusahaan rintisan di bidang penyedia layanan internet (ISP) lokal, FS-100 sering kali menjadi titik awal yang baik karena keseimbangan antara harga dan fungsi. Namun, bagi kontraktor nasional yang menangani proyek strategis, FS-200 menawarkan keandalan mekanik dan fitur pengujian yang lebih sesuai dengan standar pelaporan teknis yang ketat.

Kesimpulan Analitis

Perbedaan antara Fusion Splicer Fasser Networks FS-100 dan FS-200 dapat dirangkum ke dalam tiga pilar utama: kapasitas energi, presisi visual, dan kemampuan integrasi sistem. FS-100 unggul dalam hal portabilitas dan efisiensi berat, menjadikannya instrumen yang sangat lincah untuk pekerjaan instalasi retail harian di Indonesia yang memiliki tingkat kepadatan pelanggan tinggi. Dengan berat 1,5 kg dan kemampuan 340 siklus, alat ini memenuhi semua kebutuhan dasar penyambungan dengan standar redaman yang sangat baik di angka 0,02 dB.

Di sisi lain, FS-200 adalah sebuah platform kerja yang dirancang untuk stabilitas dan kebutuhan jaringan berkapasitas tinggi di masa depan. Penggunaan material aluminium penerbangan 7075, layar 5 inci dengan perbesaran 420 kali, dan kapasitas baterai 420 siklus menempatkan perangkat ini pada kategori yang lebih tangguh untuk pengerjaan infrastruktur backbone dan jaringan 10G-PON. Keberadaan modul ekstensi OTDR pada FS-200 memberikan nilai tambah yang signifikan bagi tim teknis yang memerlukan verifikasi jalur secara instan.

Secara teknis, hasil sambungan yang diberikan oleh kedua perangkat ini identik dalam hal kualitas redaman, asalkan prosedur persiapan dilakukan dengan benar. Namun, FS-200 memberikan margin kenyamanan operasional yang lebih luas, terutama saat menghadapi tantangan di lokasi yang tidak memiliki sumber daya listrik dan memerlukan pengawasan kualitas yang lebih ketat melalui modul pengujian terintegrasi. Pemilihan akhirnya bergantung pada apakah prioritas pengguna terletak pada keringanan beban kerja fisik (FS-100) atau pada ketahanan mekanik dan kelengkapan fitur pengujian untuk jangka panjang (FS-200).

Ingin tahu arti angka-angka di datasheet kedua mesin ini? Baca cara membaca spesifikasi fusion splicer.

Artikel Terkait

Baca juga: Fusion Splicer FS-200: Solusi Penyambungan Kabel Fiber Optic untuk Jaringan Backbone

Similar Posts